Tampilkan postingan dengan label subagio sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label subagio sastrowardoyo. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Desember 2013

kata-kata subagio sastrowardoyo

Bunyi begitu lemah menghadapi landa waktu. Bunyi begitu mudah menguap tanpa meninggalkan kumandang di udara dan yg tinggal hanya lambang-lambang mati atas kertas musik. Setiap nada hilang begitu saja seperti oleh waktu.
Seni lukis adalah seni manusia tanpa lidah dan saya tidak puas dengan seni lukis. Menurut perasaan saya, sarana lukis tidak cukup lembut untuk mengucapkan gerak perasaan dan pikiran. Didalam lukisan nyawa masih terus bergurau hendak mengucapkan diri seakan-akan terkungkung dalam tubuh yg tak dianugerahi bahasa.
Akhirnya saya menyambut bidang kesusastraan, sebab disini saya dapat mengucapkan diri secara penuh sebagai manusia. Didalam kesusastraan pengalaman estetik tidak hanya melibatkan saat-saat jasmaniah, penginderaan, dan perasaan dari kehidupan kita sebagai insan, tetapi bersangkutan juga dengan masalah-masalah, pertimbangan-pertimbangan, dan keputusan-keputusan yg menjadi ciri khas kehidupan manusiawi. Didalam sastra kita mengucap dan terbayang sebagai manusia yg penuh.

Senin, 23 Desember 2013

Subagio Sastrowardoyo-pidato di kubur orang

Ia terlalu baik buat dunia ini
Ketika gerombolan mendobrak pintu dan menjarah milikinya, ia tingga diam dan tidak mengadakan perlawanan
Ketika gerombolan memukul muka dan mendopak dadanya, ia tinggal diam dan tidak menanti pembakaran
Ketika hermankan menculik istri dan memperkosa anak gadisnya, ia tinggal diam dan tidak memendam kebencian
Ketika gerombolan membakar rumahnya dan menembak kepalanya, ia tinggal diam dan tidak mengucap penyesalan
Ia terlalu baik buat dunia ini

Subagio Sastrowardoyo-nawang wulan

Jangan bicara denganku dengan bahasa dunia
Aku dari sorga
Jangan sentuh tubuhku dengan tubuh berdosa
Aku dari sorga

Senin, 16 Desember 2013

Subagio Sastrowardoyo-manusia pertama di luar angkasa

Beritakan kepada dunia bahwa aku telah sampai pada tepi darimana aku tak mungkin lagi kembali
Aku kini melayang ditengah ruang dimana tak berpisah malam dan siang hanya lautan yg hampa dilingkung cemerlang bintang
Bumi telah tenggelam dan langit makin jauh mengawang
Jagat begitu tenang

Senin, 09 Desember 2013

Subagio Sastrowardoyo-diujung ranjang

Waktu tidur tak ada yg menjamin kau bisa bangun lagi
Tidur adalah persiapan buat tidur lebih lelap
Diujung ranjang menjaga bidadari menyanyi nina-bobo

Senin, 02 Desember 2013

Subagio Sastrowardoyo-dan kematian makin akrab

Di muka pintu masih bergantung tanda kabung
Seakan ia tak akan kembali
-Memang ia tak kembali tapi ada yg mereka tidak mengerti- mengapa ia tinggal diam waktu berpisah
Bahkan tak ada kesan kesedihan pada muka dan mata itu, yg terus memandang, seakan mau bilang dengan bangga: -matiku muda-

Minggu, 24 November 2013

Subagio Sastrowardoyo-daerah perbatasan

I
Kita selalu berada di daerah perbatasan antara menang dan mati
Tak boleh lagi ada kebimbangan memilih keputusan: adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi
Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia, juga kehormatan bagi manusia dan keturunan
Atau kita menyerah saja kepada kehinaan dan hidup tak berarti
Lebih baik mati
Mati lebih mulia dan kekal daripada seribu tahun terbelenggu dalam penyesalan
Karena itu kita tetap di pos penjagaan atau menyusup di lorong-lorong kota pedalaman dengan pistol di pinggang dan bedil di tangan
(Sepagi tadi sudah jatuh korban) Hidup menuntut pertaruhan, dan kematian hanya menjamin kita menang
Tetapkan hati
Tak boleh lagi ada kebimbangan ditengah kelaliman terus mengancam
Taruhannya hanya mati

Minggu, 17 November 2013

Subagio Sastrowardoyo-bima

Didalam pengelanaannya
dilihatnya tiada yg kekal
pada bahasa yg tinggal mati
Hutan jati hilang kumandangnya
dan sudut kota habis diperkata
juga langit telah hangus terbakar
dinyala matahari
Maka diputuskannya
untuk meninggalkan tanah kapur dan tidur dengan naga
(yg tak jadi dibunuhnya)
di samudera angan-angan
Disana ia bisa bertatapan dengan sunyi
makhluk kecil itu
berhuni di lubuk hati
Matanya cerah seperti punya bocah
yg hidup abadi

Minggu, 10 November 2013

Subagio Sastrowardoyo-adam

Karena terkutuk
manusia pertama yg terdampar di pantai
matanya buta
Dinding mega memagari cakrawala
Dunianya adalah kekosongan tanpa makna
Waktu ditanya darimana ia berasal
dan mengapa bintang berlayangan di langit
ia hanya menggeleng tak mengerti

Minggu, 03 November 2013

Subagio Sastrowardoyo-abil dan kabil

Tersesat di belantara ia dikejar tanya: dimana saudaramu?
Mengapa kau kucilkan dari dada dan biarkan ia terkapar di pasir
Ia kawan paling setia yg mengisi sunyimu dengan doa
Nyawa yg mengembara terus mencari saudaranya yg dicekiknya dekat kuil

Kamis, 31 Oktober 2013

Profil Subagio Sastrowardoyo

Subagio Sastrowardoyo (1924-1995) lahir di Uteran, Madiun, Jawa Timur, 1 Februari 1924, meninggal di Jakarta, 18 Juli 1995. Setelah selesai menempuh pendidikan awal dan menengah, ia kemudian masuk di jurusan Sastra Timur Fakultas Gadjah Mada, Yogyakarta, lulus tahun 1958. Ia lalu melanjutkan studinya di Departemen of Comparative Literature, Universitas Yale di Amerika Serikat, lulus Master of Arts pada tahun 1963.

Baca Juga:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...