Tampilkan postingan dengan label w. s. rendra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label w. s. rendra. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Mei 2014

W.S Rendra-gugur


Ia merangkak
diatas bumi yg dicintainya
Tiada juara lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
rekor terakhir dari bedilnya
ke dada musuh yg merebut kotanya

Ia merangkak
diatas bumi yg dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya

Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya

Sesudah pertempuran yg gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya

Ia merangkak
diatas bumi yg dicintainya
Belum lagi selusin tindak
maut pun menghadangnya
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata:
"Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah"

Tanah Ambarawa yg kucinta
Kita bukankah anak jadah
kerna kita punya bumi kecintaan

Bumi yg menyusui kita
dengan mata airnya
Bumi kita adalah tempat pautan yg syah
Bumi kita adalah kehormatan
Bumi kita adalah jiwa dari jiwa

ia adalah bumi nenek moyang
ia adalah bumi waris yg sekarang
ia adalah bumi waris yg akan datang

Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Karena api menyala di kota Ambarawa

Orang tua itu kembali berkata
"Lihatlah hari telah fajar!"
Wahai bumi yg indah
Kita akan berpelukan buat selamanya

Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan memancarkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamkannya benih
dan tumbuh dengan subur

Maka ia pun akan berkata
Alangkah gemburnya tanah disini
Hari pun lengkap malam
Ketika ia menutup matanya

Senin, 03 Februari 2014

W.S Rendra-Perempuan yang Tergusur

Hujan lebat turun di hulu subuh disertai angin gemuruh yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon
Aku terjaga dan termangu menatap rak buku-buku
mendengar hujan menghajar dinding rumah kayuku
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbayanglah wajahmu, wahai perempupan yang tergusur!
Tanpa pilihan ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu
Kamu diasuh nenekmu yang miskin di desa
Umur enam belas kamu dibawa ke kota oleh sopir taxi yang mengawinimu
Karena suka berjudi ia menambah penghasilan sebagai germo
Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya
Bila kamu ragu dan murung, lalu kurang setoran kamu berikan, ia memukul kamu babak belur
Tapi kemudian ia mati ditembak tentara ketika ikut demontrasi politik
sebagai demonstran bayaran
Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali dibatas kota
Gubernur dan para anggota DPRD menggolongkanmu sebagai tikus got yang mengganggu peradaban
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada
Jadi kamu digusur
Didalam hujuan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan sambhil memeluk kantong plastik yang berisi sisa hartamu?
Ataukah berteduh di bawah jembatan?
Impian dan usaha bagai tata rias yang luntur oleh hujan mengotori wajahmu
Kamu tidak merdeka
Kamu adalah korban tenung keadaan
Keadilan terletak diseberang highway yang bebahaya
yang tak mungkin kamu seberangi
Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu
Tetapi aku memihak kepadamu
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin di jidatmu?
O, cendawan peradaban!
O, teka-teki keadilan!
Waktu berjalan satu arah saja
Tetapi ia bukan garis lurus
Ia penuh kelokan yang
mengejutkan, gunung dan jurang yang mengecilkan hati
Setiap kali kamu lewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah,
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah, ialah kedudukan kaum terhina
Tapi aku kagum pada daya tahanmu, pada caramu menikmati setiap kesempatan, pada kemampuanmu berdamai dengan dunia, pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri, dan caramu merawat selimut dengan hati-hati
Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga
Menyaksikan kamu tertawa karena melihat ada kelucuan didalam ironi, diam-diam aku memuja kamu di hati ini

Cipayung Jaya 3 Desember 2003 Rendra

Rabu, 29 Januari 2014

W.S Rendra-SAJAK SEBATANG LISONG

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan-pertanyaanku membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis-papantulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya?
menghisap udara yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata: bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung-gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat protes-protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidakadilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian
bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta-juta harapan ibu dan bapak menjadi gemalau
suara yang kacau menjadi karang di bawah muka samodra?
kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing
diktat-diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa-desa
mencatat sendiri semua gejala dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan
RENDRA (itb bandung, 19 agustus 1978 )

Rabu, 22 Januari 2014

W.S Rendra-SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah
O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan
O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan bahwa hukum harus lebih tinggi dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara
O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada
Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman didalam prahara
Bau anyir darah yang kini memenuhi udara menjadi saksi yang akan berkata: Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
Apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
Apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
Maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
Lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya
Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli didalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
Berarti pintu untuk pikiran- pikiran kalap yang akan muncul dari sudut-sudut gelap telah kamu bukakan!
Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.
======
Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998

Rabu, 15 Januari 2014

W.S Rendra-Makna sebuah titipan

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika: aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan Nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan Nya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"

Rabu, 08 Januari 2014

W.S Rendra-Rumpun Alang-alang

Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya tapi alang-alang tumbuh di dada

Rabu, 01 Januari 2014

W.S Rendra-Surat Cinta

Kutulis surat ini kala hujan gerimis bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti, aku cinta kepadamu!
Kutulis surat ini kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal jenaka dan manis
mengibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti, kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas bagai logam berat gemerlapan menempuh ke muka dan tak kan kunjung diundurkan
Selusin malaikat telah turun dikala hujan gerimis
Di muka kaca jendela mereka berkaca dan mencuci rambutnya untuk ke pesta
Wahai, dik Narti dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu: tiada lebih buruk dan tiada lebih baik dari yang lain...
penyair dari kehidupan sehari-hari, orang yang bermula dari kata-kata yang bermula dari kehidupan, pikir dan rasa
Semangat kehidupan yang kuat bagai berjuta-juta jarum alit menusuki kulit langit: kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuat
bagai seribu tangan gaib menyebarkan seribu jaring menyergap hatimu yang selalu tersenyum padaku
Engkau adalah putri duyung tawananku
Putri duyung dengan suara merdu lembut bagai angin laut, mendesahlah bagiku!
Angin mendesah selalu mendesah dengan ratapnya yang merdu
Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-ngejapkan matanya yang indah dalam jaringku
Wahai, putri duyung, aku menjaringmu aku melamarmu
Kutulis surat ini kala hujan gerimis kerna langit
gadis manja dan manis menangis minta mainan
Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti kuingin dikau menjadi ibu anak-anakku!

Baca Juga:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...